Selasa, 08 Desember 2009

Hati-hati beriklan

Dear Friends,

Bulan lalu saya memasang iklan untuk menjual ruko di koran Kompas dan Poskota. Iklan menjual ruko ini saya pasang seminggu sekali pada hari Sabtu. Tidak lama setelah iklan ini ditayangkan, seorang Bapak-bapak menelpon ke nomor yang tercantum di dalam iklan, yang sengaja saya gunakan nomor handphone teman kantor untuk alasan kesibukan saya.

Bapak penipu ini mengatakan sangat ingin memiliki ruko yang akan dijual untuk keperluan sebagai kantornya. Lantas saya menyarankannya untuk melihat kondisi ruko yang akan saya jual tersebut. Dan Bapak penipu tersebut mengatakan akan melihatnya beberapa hari kedepan.

Beberapa hari kemudian Bapak penipu tersebut menelpon dan mengatakan bahwa dia sudah melihat ruko yang akan saya jual, dan dia cocok dengan lokasi dan bentuknya. Kebetulan ruko tersebut memang masih saya gunakan untuk kantor dan ada orang setiap hari disana. Tetapi saya tetap merasa iseng untuk bertanya, kapan dia lihat dan kenapa tidak masuk kedalam dan berbicara dengan orang kantor saya, juga saya tanyakan apakah tidak salah lihat atau salah alamat. Terkesan jawaban yang diberikan agak meragukan, selalu jawabannya istri saya yang sudah lihat.

Hal lain yang lebih meragukan lagi adalah, selain kepastiannya pernah melihat barang, Bapak penipu ini langsung menawarkan diri untuk membayar uang muka pembelian dan menanyakan nomor rekening yang bisa di transfer. Bapak penipu ini menyarankan menggunakan rekening bank BCA untuk mempermudah transaksi. Dari pagi sampai dengan siang, karena kesibukan saya belum memberi jawaban nomor rekening mana yang ingin saya pakai, dan selama waktu dari jam 9 pagi s/d 12 siang, bapak penipu ini menelpon sekitar 3-4 kali, dengan alasan ingin cepat bayar sebelum bank tutup.

Setelah nomor rekening saya berikan pada siang hari, kira-kira setelah jam 4 sore, bapak penipu ini menelpon karyawan kantor saya kembali dan mengatakan sudah melakukan transfer. Dalam selang waktu 1 jam, Bapak ini terus menelpon beberapa kali memaksa teman untuk melakukan cek ke ATM, yang akhirnya saya lakukan sekitar jam 5 sore melalui mobile banking. Ternyata tidak ada dana yang bertambah sama sekali. Hal ini dikabari oleh teman saya kepada Bapak penipu tersebut.

Bapak penipu ini terus mendesak bahwa dia sudah membayar, dengan berdalih kalau pengecekan dengan internet sering salah, menyarankan kawan saya untuk meminjam kartu ATM dan memeriksanya melalui ATM. Langsung saat itu saya ingat beberapa email yang menjelaskan penipuan yang menghipnotis korban melalui telepon saat di ATM dan juga ada beberapa cara penipuan yang cukup bodoh, yaitu memaksa korban untuk memilih menu bahasa inggris dan memandu nya untuk mentransfer dana ke penipu (karena korban tidak mengerti bahasa Inggris). Segera saya sampaikan kepada teman kantor saya yang menangani proses negosiasi penjualan ini.

Setelah kawan saya menolah untuk pergi ke ATM, bapak penipu ini mulai bersikap kasar. Hal lain yang membuat saya ragu adalah, kenapa setelah mengejar-ngejar untuk meminta nomor rekening pada pagi hari, baru melakukan transfer pada jam 4 sore ? terlihat jelas bahwa Bapak penipu ini menginginkan korbannya untuk pergi ke ATM karena waktu pelayanan bank telah lewat / tutup.

Setelah hal ini terjadi, saya juga menerima email berantai yang menceritakan bahwa penipuan sejenis ini mulai menimpa para pemasang iklan jual mobil. Dengan alaasan ingin membeli, mereka menawar tinggi dan menawarkan diri untuk membayar DP sedikit untuk tanda jadi pada kali pertama menelpon.

Semoga cerita ini bisa memberi masukan bagi kawan-kawan yang ingin beriklan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar