Dear My Fren,
Untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses, anda harus mencintai pekerjaan yang anda lakukan melebihi semua hal yang ada... terdengar gila ? .... ya , memang. . Ini adalah bagian tersulit dari bisnis untuk dipecahkan bak pertanyaan "telur atau ayam", yang terkadang sering juga menjebak saya untuk larut didalamnya tanpa bisa memutuskan dengan jelas, Bisnis atau Keluarga ?
Tidak seperti pertanyaan Bisnis atau Teman/Diri Sendiri? Ini dengan mudah dapat saya jawab (dengan kejam), sudah 100% pasti Bisnis. Kesenangan untuk diri sendiri dan teman tidak akan menemani anda setiap hari dikala anda sudah tua dan tidak berdaya. Memang beberapa teman akan sering mengunjungi anda, tapi tidak akan pernah membantu anda untuk membersihkan pantat anda atau muntah yang anda keluarkan dikala sakit. Semua yang akan melakukan itu kemungkinan besar adalah KELUARGA anda. (Walaupun saya adalah orang yang sangat menghargai teman, tetapi saya juga mempunyai logika dan kejujuran untuk menuliskan tulisan ini. Saya adalah jenis orang yang rela untuk pergi menemani teman bersenang-senang dengan mengorbankan waktu untuk mandi dan makan setelah pulang kerja jam 9 malam )
Bagi 99% pengusaha-pengusaha yang saya anggap sukses dan berkomitmen terhadap pekerjaannya, bila ditanya, mana yang lebih penting ? keluarga atau bisnis ? jawabannya pasti keluarga. Tapi dalam kenyataan sehari-hari, banyak orang yang memprioritaskan pekerjaan melebihi segala-galanya.. melebihi keluarga, agama, teman maupun diri sendiri. Beberapa orang tidak mengakuinya, tetapi beberapa orang juga dengan ketir mengakuinya kalau bisnis adalah "istri pertamanya". Banyak rekan bisnis, yang kantornya libur pada hari Sabtu, tidak akan pernah menolak apabila saya ajak untuk bertemu pada hari sabtu maupun minggu !
Jelas kalau porsi waktu yang kita berikan untuk kerja (senin - jumat) sudah melebihi waktu yang kita berikan untuk yang lain. Tetapi pada saat bisnis membutuhkan kita, misalnya pada hari sabtu ataupun minggu, kebanyakan pebisnis sukses yang saya kenal pasti dengan senang hati mengorbankan akhir minggunya untuk pertemuan dengan rekan bisnis.
Apakah jawaban lebih dalam dari permasalahan ini adalah "cinta" terhadap keluarga sehingga kita semua rela meninggalkan keluarga dan kehidupan lainnya untuk memberikan keluarga kita sesuatu yang lebih baik dihari tua kita nanti ? atau kecukupan financial untuk hari tua kita dan keluarga ? ... Ini pun sulit dijawab , apabila kita hanya cinta keluarga tanpa cinta terhadap bisnis, maka anda tidak akan pernah sukses juga di bisnis anda !!!
Secara logika saya memang telah memutuskan, sementara target "kecukupan financial" belum tercapai, maka sementara memang bisnis masih ditempatkan diatas keluarga, walaupun saya lebih mencintai keluarga ??#*#@!?!?
Semoga pada saatnya saya mencapai target tersebut, saya dapat berkomitmen penuh untuk menempatkan keluarga dan agama diatas semuanya.
Semoga pada saatnya mencapai target "kecukupan financial" yang telah dihitung, tidak akan saya rubah lagi targetnya ke atas (red : tidak terpuaskan)
Semoga cinta terhadap keluarga ini yang telah mendorong saya untuk mencintai bisnis tidak menghapus cinta terhadap keluarga dalam perjalanan ini. Banyak pebisnis yang saya lihat rela untuk pergi jauh untuk kesuksesan bisnis, pada akhirnya lupa untuk kembali ke keluarga sampai akhir hayatnya. Bila ini terjadi, maka tujuan awal dari bisnis kita (yang mulia) untuk alasan cinta keluarga sudah tidak berguna lagi.
Saya mempunyai sebuah kisah nyata kasih ibu untuk anaknya (Andy Lindityo) yang rela bekerja keluar negeri selama 4 tahun x 7 hari per minggu untuk "kecukupan financial" bagi anaknya bersekolah di luar negeri, dan pada akhirnya sang Ibu kembali untuk bersatu dengan anaknya setelah tugas mulia tersebut selesai. Kisah ini sangat menginspirasi saya untuk mencintai bisnis saya dan mengingatkan saya untuk memiliki "rem" pada saatnya nanti.
CINTAILAH BISNIS ANDA DEMI CINTA ANDA UNTUK KELUARGA ! dan jangan lupa pasang REM nya ya !
Kamis, 30 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar